Destinasi Wisata

Berkunjung ke Subulussalam, Anda Bisa Berwisata Sambil Petik Salak Pondoh di Pohonnya

Selain menjual buah, Sunardi juga menyediakan bibit hasil cangkokan yang dihargai Rp 26.000 per batangnya dengan masa panen 2 tahun.

Penulis: Khalidin
Editor: Khalidin
SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN UMAR BARAT
Sunardi bersama pengunjung di kebun Salak Pondoh, Desa Penuntungan (SKPC) Kecamatan Penanggalan Kota Subulussalam. (SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN)
SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN UMAR BARAT
Buah Salak Pondoh milik Sunardi (72) warga Desa Penuntungan (SKPC) Kecamatan Penanggalan Kota Subulussalam. (SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN)
SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN UMAR BARAT
BUAH Salak Pondoh, milik Sunardi (72) petani di Desa Penuntungan (SKPC) Kecamatan Penanggalan Kota Subulussalam. (SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN)
FOR SERAMBINEWS.COM
Wartawan Serambinewstravel.com Khalidin Umar Barat berbincang dengan Sunardi (72) di kebun Salak Pondoh, Desa Penuntungan (SKPC) Kecamatan Penanggalan Kota Subulussalam.
FOR SERAMBINEWS.COM
Wartawan Serambinewstravel.com Khalidin Umar Barat saat berada di kebun salak pondoh milik Sunardi (72) warga Desa Penuntungan (SKPC) Kecamatan Penanggalan Kota Subulussalam.

SERAMBINEWSTRAVEL.COM, SUBULUSSALAM - Kota Subulussalam yang merupakan daerah transit perbatasan Aceh-Sumatera Utara selama ini lebih dikenal dengan hamparan kebun kelapa sawit.

Padahal sebenarnya, kota hasil pemekaran dari Aceh Singkil itu tidak hanya identik dengan areal perkebunan kelapa sawit tapi ada beberapa komoditas lain seperti salak pondoh.

Nah, bagi Anda yang berkunjung ke sini, tak lengkap rasanya jika belum membawa pulang oleh-oleh atau buah tangan khas dari Kota Sada Kata ini.

Adalah salak pondoh, menjadi salah satu oleh-oleh yang menjadi khas Subulussalam. Jika selama ini buah tersebut biasa didatangkan dari Pulau Jawa seperti Yogyakarta, kini bagi anda yang ingin mencicipi kesegaran salak pondoh langsung dari pohonnya bisa mampir ke Subulussalam.

Adalah Desa Penuntungan, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam yang juga sebagai lokasi wisata pemandian air terjun sebagian penduduknya berprofesi sebagai petani salak ini.

Buah ini sudah hampir 20 tahunan menjadi komoditas unggulan penduduk sekitar seperti Sunardi (72). Kakek dari 14 cucu dan 2 cicit ini sudah menanam salak pondoh sejak tahun 2000 lalu.

Dia termasuk orang pertama membudidayakan salak pondoh di desa yang berbatasan dengan Kabupaten Dairi, Sumatera Utara tersebut.”Mulai kami kembangkan tahun 2000-an,” kata Sunardi saat berbincang dengan Serambinews.com, Kamis  (8/4/2021)

Baca juga: Jalan-jalan ke Singapura, dari Air Terjun Buatan di Bandara Changi, Spectra, Hingga Masjid Sultan

Baca juga: Menikmati Keelokan Wisata Alam Gunung Salak Aceh Utara, Sejuk dan Menawan

Bukan hanya Sunardi, masyarakat Desa Penuntungan lainnya yang menanam salak pondoh seperti Zainuddin, Alm Mahjum dan Momot.

Makanya, ketika memasuki kawasan ini, beberapa meter Anda akan langsung melihat sejumlah deretan pohon salak dan kesejukan udara khas pedesaan. Anda tentu kenal dengan salak yang satu ini, rasanya kenyal, manis dan harum.

Jika Anda sering makan buahnya, maka di Kota Subulussalam anda bisa langsung memetik sendiri buah yang masih segar.

Berada sekitar enam kilometer atau lima menit perjalanan darat dari pusat kota Subulusssalam, Desa Penuntungan atau yang dikenal dengan SKPC terdapat kebun salak pondoh milik warga setempat.

Beberapa halaman rumah penduduk dijadikan sepetak kebun salak pondoh. Bahkan ada beberapa rumah yang dikelilingi tanaman salak pondoh dan hanya menyisakan sedikit jalan untuk akses ke dalamnya. Jalan menuju ke desa ini sudah sangat mulus dengan aspal hotmix-nya.

Berkunjung ke desa wisata ini dan memetik salak langsung dari pohonnya merupakan sensasi yang akan menjadi pengalaman yang berkesan.Aroma dan rasa khas salak pondoh Subulussalam membuat buah ini sangat disukai.

Harganya pun lebih mahal hingga dua kali lipat dari salak biasa. Jika salak biasa dijual pengecer seharga Rp 12.000- Rp 13.000 perkilogram, salak pondoh mencapai Rp 16.000 bahkan Rp 18.000 per kilonya. Namun apabila langsung ke kebun, harganya hanya Rp 12.000 – Rp 12.500 dalam sekilo.

Sunardi sendiri hanya mengelola salak pondoh di perkarangan rumahnya yang tidak sampai dua rantai. Namun, dari hasil panen salak seluas itu mampu menutupi kebutuhannya sehari-hari.

Sebab, salak tersebut bisa menghasilkan sekitar 100 kilogram dalam seminggu atau berkisar 400 kilogram sebulan. Sementara untuk perawatan hanya membutuhkan biaya sekitar Rp 1 jutan.

Wartawan Serambinewstravel.com Khalidin Umar Barat saat berada di kebun salak pondoh milik Sunardi (72) warga Desa Penuntungan (SKPC) Kecamatan Penanggalan Kota Subulussalam.
Wartawan Serambinewstravel.com Khalidin Umar Barat saat berada di kebun salak pondoh milik Sunardi (72) warga Desa Penuntungan (SKPC) Kecamatan Penanggalan Kota Subulussalam. (FOR SERAMBINEWS.COM)

Kecuali itu, Sunardi juga mengurus kebun milik warga lainnya sehingga menjadi nilai tambah bagi keluarga pria beranak enam ini.

Lebih jauh Sunardi mengatakan masa panen salak pondoh hanya 2-3 tahun pascaditanam. Dari sisi perawatan juga tidak begitu berat dan dapat dikerjaka orang seusianya.

Selain menjual buah, Sunardi juga menyediakan bibit hasil cangkokan yang dihargai Rp 26.000 per batangnya dengan masa panen 2 tahun.

Bagi pembaca yang penasaran, yuk berkunjung ke Penuntungan Subulussalam karena selain bisa memetik buah salak pondoh dari pohonnya dapat menikmati panorama alam seperti air terjun yang sejuk dan anda juga dapat membawa oleh-oleh buah salak pondoh khas Kota Subulussalam.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved