Destinasi Wisata

Perjalanan ke Tanah Gayo, Sempurnakan Dengan Cerutu dan Seduhan Kopi Galeri Kopi Indonesia

Dua kenikmatan itu bisa langsung dirasakan tatkala tiba di Galeri Kopi Indonesia (GKI), sebuah kedai kopi berada di tengah kebun kopi.

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Khalidin
SERAMBINEWS.COM
Suasana kedai kopi kebun di Galeri Kopi Indonesia Takengon, 

Laporan Fikar W Eda | Aceh Tengah

SERAMBINEWSTRAVEL.COM ---Sempurnakan perjalanan Anda ke Dataran Tinggi Gayo Aceh Tengah dengan harum cerutu, “Gayo Mountain Cigar” dan seduhan kopi arabika Gayo.

Dua kenikmatan itu bisa langsung dirasakan tatkala tiba di Galeri Kopi Indonesia (GKI), sebuah kedai kopi berada di tengah kebun kopi.

Letaknya di Kampung Kayu Kul, Kecamatan Pegasing, lebih kurang 7 km dari ibukota Kabupaten Aceh Tengah, Takengon.

Kedai tersebut dibangun oleh Ir Salmy bersama putra sulungnya, Sahru Gayo. Sahru memfokuskan diri mengurusi kedai kopi kebun, dan ayahnya Ir Salmy merintis usaha terbilang langka, membuat cerutu.

Usaha cerutunya mulai membuahkan hasil. Para penikmat cerutu menggandrungi cerutu olahan tangan Salmy.

Ia memberi nama cerutunya dengan “Gayo Mountain Cigar.”Sudah mendapatkan pita cukai dan resmi beredar di pasaran.

"Ini industri rumah tangga. Saya gulung sendiri. Saya tangani sendiri," kata Salmy. Diapun mengaku, sudah bertahun-tahun melakukan eksperimen pembuatan cerutu.

Baca juga: November Kopi Gayo 2020 Segera Digelar di Bener Meriah, Saksikan Secara Live 

Baca juga: Industri Kerajinan Gayo Ramaikan Bazar di Gedung DPR RI Senayan

Baca juga: Mulai Tahun Ini Pemkab Gayo Lues akan Gelar Pacuan Kuda 2 Kali dalam Setahun, Catat Jadwalnya

Pria ini mengaku belajar sendiri dan mengolahnya sendiri, termasuk membeli bahan baku dari beberapa petani tembakau di Gayo.

Dia menguasai betul keunggulan cigar Gayo, baik aroma, manfaat maupun tekstur daun. Harga cerutunya bervariasi, mulai dari Rp 15 ribu per batang sampai Rp 300 ribu per batang.

Bahkan ada juga beberapa jenis cerutu yang lebih mahal. “Tapi tetap lebih murah dibanding cigar impor,” katanya sambil tertawa.

Pelanggan cerutu akan diajak masuk ruang pengolahan cerutu milik Salmy. Sebuah ruangan bagian depan kedai Galeri Kopi Indonesia.

Ia akan bercerita banyak tentang filosofi tembakau bagi orang Gayo. Ia juga mebeberkan seluruh proses pembuatannya.

Pengunjung bakal mendapat pengetahuan tentang cerutu Gayo. Pelanggannya berasal dari banyak daerah, Aceh dan luar Aceh. Ia juga melayani pengiriman ke luar daerah.

Selain cerutu, tidak kalah menarik, adalah cerita kopi yang disajikan di tempat itu. Sahru, putra Salmy, juga tidak sungkan menceritakan keunggulan kopi Gayo dengan fasih dan lengkap.

Sahru tamatan STM Takengon, pernah menjadi duta kopi Gayo, memiliki pengetahuan cukup banyak mengenai kopi Gayo.

Galeri Kopi Indonesia adalah tempat nongkrong penikmat kopi sekaligus penikmat cerutu. Tua dan muda. Dari berbagai kalangan dan profesi. Sahru juga melengkapi kedainya dengan menjual berbagai souvenir kopi.

Dataran Tinggi Gayo menyimpan potensi sangat besar dalam bidang pariwisata. Kopi salah satu andalan yang sudah berhasil mendapat kehormatan di panggung kopi dunia.

“Sekarang kita menumpahkan perhatian kepada tembakau, kita harapkan bisa mendunia seperti kopi,” harap Salmy. Tanah Gayo sejak zaman dulu adalah penghasil tembakau penting di Aceh.

Tapi tembakau sempat redup, dan ditinggalkan, sebab dianggap tidak memberi penghasilan ekonomi. Tapi belakangan marwah tembakau Gayo mulai muncul, menyusul berkembangnya “bako ijo” tembakau rajangan berwarna hijau dan sangat harum.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved